Keluarga.. apa yang tersirat di kepala? Ibu dan bapak? Kadang, teman bahkan bisa jadi seperti keluarga bukan? Aku coba kenang beberapa tahun silam, saat itu, aku masih berseragam putih abu2. Masa2 paling indah *katanya*.
Aku punya 2 orang teman yang sudah tidak lg pantas aku sebut teman. Mereka saudara2 yang baik, ria dan lisya. Kami keluarga, itu kata ria. Kami yang dia maksud adalah kami b3 dan pasangan. Hehehe, walau waktu itu aku masih dalam hubungan tanpa status. Kami ber6. Aku-ridho, lisya-umar, dan ...
Kelas 1 sma, ria menemukan seorang laki-laki culun. Ceritanya malam itu ria lagi bener-bener ga ada kerjaan. Butuh teman ngobrol. Laki-laki. Singkatnya dia butuh pacar untuk menghapus traumanya karena baru saja dipermainkan laki2 brengsek yg baru dikenalnya beberapa hari.
Laki-laki culun itu bernama Wicaksono Tegar Kristantyo, dia adalah satu2nya laki2 yang merespon baik sms send to all-nya ria. Sampai sekarang, hubungan mereka sudah berjalan 7tahun. Waktu yang sangat lama dengan awal yang sangat singkat.
Hubungan mereka tumbuh dibawah kekuasaan ria. Bukan ria ga sayang wicak, semua tau.. sifat ria masih sangat kekanak2an. Wicak juga sadar itu dan 7tahun sudah mereka mampu saling menerima satu sama lain. Ria dan wicak adalah orang2 baik, sedikitpun aku ga pernah punya masalah atau memendam sakit hati sama mereka b2. Mereka hanya harus mampu bersikap lebih dewasa untuk menghadapi dunia yang sudah tua ini :)
Aku selalu ingat cerita tentang anak. Ria dan wicak sepakat buat ga punya anak kalau mereka sudah berkeluarga nanti. Alasannya konyol, sangking konyolnya aku ga mgkin ceritakan itu disini. Sampai akhirnya, aku gertak ria. Aku minta dia ngebayangin gimana masa tuanya di panti jompo kelak. Sedangkan aku akan bahagia dengan anak cucu ku. Kalimat itu dia sampaikan ke wicak. Besoknya, dia sampaikan kabar gembira pada ku. Pasangan ini sepakat untuk punya 1 orang anak. Cukup 1. Hahah. Aku rasa pemerintah tidak perlu repot2 gembar/o tentang program KB kalau semua warga Indonesia berfikiran seperti mereka. Kesimpulannya, gertakan ku berhasil. Lebih parahnya lagi, akhirnya ria masuk kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD dimana dia harus mampu menghadapi banyak sekali anak2. :p
Dulu, aku lupa karna masalah apa, ria cerita.. kalau sampai mereka putus, ria bakal datengin wicak ke sekolahnya dan nangis2 di depan smarihasta Malang. Beberapa hal yang dipikirkan ria tentang kehidupan kadang ga bisa masuk di akal ku. Tapi aku terima dia sebagai sahabat yang sangat baik. Aku yakin, sangat yakin, ria begitu sayang dengan orang2 di sekitarnya yang juga sayang dia.
Hubungan mereka sampai 7 tahun ini benar-benar tanpa kata putus. Mungkin gertakan ria pada wicak memang ampuh. Hahah. Yang pasti, hari ini wicak sudah dalam status panggilan interview sebuah kantor di Sidoarjo. Dia sudah tdk lagi sekolah sehingga sebenernya gertakan Ria sdh kadaluarsa. Aku rasa ria harus buat gertakan teranyar lagi. Anyway, tanpa gertakan, Wicak menolak kerja di Sidoarjo dengan alasan ga mau ninggalin ria dan pengen liat dia di wisudah dulu.
Wicak sekarang sudah ga culun, tampilannya kurang lebih seperti afgan. Semua itu berkat ria. Walau udah ga culun lagi, aku ga pernah denger prestasi akademiknya menurun. Wicak memang lahir sebagai anak pintar. Dan ria beruntung karena wicak mampu menjadi dayung bagi sampan. Ria lemah dalam beberapa hal dan wicak mampu menutupi semua itu. Mereka serasi.
Ria adalah tipical orang yang gampang khawatir. Masalah kecil berasa besar. Kalo udah kebingungan, diakhiri dengan nangis dengan tetep masih kebingungan. Dia lucu. Polos walau superior hahah.
Kemarin, Ria cerita kalo hubungan mereka sudah mulai makin serius. Wicak setiap hari dateng ke rumah ria. Mereka sdh mulai survey salon dan liat-liat undangan. Sebentar lagi calon nyonya wicak akan segera di wisudah sebagai mahasiswi dan sebagai gadis lajang. Sweet bukan jika hubungan ini berawal dari pesan singkat dan berakhir di kabar bahagia.
Pagi ini aku bangun dan mendapat pesan singkat yang just sent to me dari umar. Wicak, pacar ria itu, meninggal dunia.. Senin sore (31/1/14), namanya sudah ditambahi imbuhan Alm. Tubuhku terguncang hebat. Aku gemetar. 1 di kepala ku, Ria.
Lupakah wicak dengan perempuan yang sekarang sedang menangisinya lalu pingsan dan menangis lagi itu? Lupakah dia hingga pergi meninggalkan 7th mereka? Lupakah dia dengan semua ini? Maka lupakan lah. Jiwa mu akan tenang di sisi-Nya kawan. Lupakanlah semua tentang dunia mu, dunialah yang akan mengingat mu.
Banyak kepala yang akan bersujud menyembah Allah. Lalu berdoa untuk mu. Insyaallah. Biarlah Ria sekarang menjadi urusan ku. Aku coba tenangkan diri ku sndiri.
Pertama kali aku telfon lisya, tidak ada jawaban. Aku telfon umar, dia cerita sedikit. Dan aku hanya berusaha menghindari jempol ku memencet nama Ria. Aku tidak mau dengar suaranya. Aku sudah tau. Tanpa harus ada yang beritahu. Aku kenal Ria.
Tapi aku ga kuat! Aku telfon dia. Risa, adiknya yang angkat. Cuma 1 pesan yang dia sampaikan, Ria masih pingsan. Aku juga hanya menyampaikan 1 kabar, aku akan datang.
Detik berjalan, menit berlalu. Bunyi pesan di hape ku dari Ria. Masih adiknya yang tulis, "mbak tolong telf mbak ria yah". Telfon ria berdering saat itu juga. Aku diam, dia menangis. Aku dengar, hanya mendengar.
Hati kami tertaut. Aku menangis. Aku merasa. Ria ditinggal wicak untuk selamanya. Tidak ada gertakan yang ampuh untuk tdk ditinggalkan sebenarnya.
Ini yang Ria bilang ke aku:
"Nad.. sono nad.. sono.. umur e mek sak mene nad. Aku di tinggal nad. Ya Allah. Keinginan e sik akeh, arek e sik pengen wisudah nad. Sik pengen ngeliat aku wisudah. Arek e sik umur sak mene. Pengen e sik wakeh nad. Ojok nyia2no ridho nad, bersyukur o sik onok ridho nad, eman2en. Ya Allah.. aku keakean nyia2no sono nad. Aku emoh liat jalan, kabeh sak malang wes tak lewati bareng sono nad. Aku mesti ketok2en. Aku emmoh wisudah. Aku emmoh nad. Opo o gak aku ae sing mati. Opo o kok ga jatoh wong loro ae nang dalan cekne mati bareng nad. Opo o nad ??? Wes ga onok keluarga, gak onok wesan naaad. Sono loh sehat nad, tapi arek e di kafani. Sono lemu nad, lemu tapi arek e di kubur naaad. Aku kemaren nang omah e mayit e tak ambungi anyep naaaddd. ... ... ..." (ria pingsan)..
Aku sempat nasehati ria. Dari nada bicara rendah, sedang hingga tinggi. Sampai sekarang, aku ga lagi berani hubungi ria. Aku cuma mau peluk dia. Biar dia pingsan di pundak ku. Aku siap tahan beratnya, karna hanya itu yang aku mampu. Aku ga mampu menggantikannya untuk merasakan beban ini.
Ria bukan satu-satu nya yang ditinggal orang yang sangat dikasihi. Banyak org lain di luar sana yang juga mengalami hal yang sama. Tapi apapun itu, ditinggal tidak pernah mudah. Walau bgtu, ini takdir Ilahi yang harus diterima. Ini yang terbaik. Wicak bahagia. Dan ria akan bahagia. Insyaallah.
Al-fatihah.
Aku punya 2 orang teman yang sudah tidak lg pantas aku sebut teman. Mereka saudara2 yang baik, ria dan lisya. Kami keluarga, itu kata ria. Kami yang dia maksud adalah kami b3 dan pasangan. Hehehe, walau waktu itu aku masih dalam hubungan tanpa status. Kami ber6. Aku-ridho, lisya-umar, dan ...
Kelas 1 sma, ria menemukan seorang laki-laki culun. Ceritanya malam itu ria lagi bener-bener ga ada kerjaan. Butuh teman ngobrol. Laki-laki. Singkatnya dia butuh pacar untuk menghapus traumanya karena baru saja dipermainkan laki2 brengsek yg baru dikenalnya beberapa hari.
Laki-laki culun itu bernama Wicaksono Tegar Kristantyo, dia adalah satu2nya laki2 yang merespon baik sms send to all-nya ria. Sampai sekarang, hubungan mereka sudah berjalan 7tahun. Waktu yang sangat lama dengan awal yang sangat singkat.
Hubungan mereka tumbuh dibawah kekuasaan ria. Bukan ria ga sayang wicak, semua tau.. sifat ria masih sangat kekanak2an. Wicak juga sadar itu dan 7tahun sudah mereka mampu saling menerima satu sama lain. Ria dan wicak adalah orang2 baik, sedikitpun aku ga pernah punya masalah atau memendam sakit hati sama mereka b2. Mereka hanya harus mampu bersikap lebih dewasa untuk menghadapi dunia yang sudah tua ini :)
Aku selalu ingat cerita tentang anak. Ria dan wicak sepakat buat ga punya anak kalau mereka sudah berkeluarga nanti. Alasannya konyol, sangking konyolnya aku ga mgkin ceritakan itu disini. Sampai akhirnya, aku gertak ria. Aku minta dia ngebayangin gimana masa tuanya di panti jompo kelak. Sedangkan aku akan bahagia dengan anak cucu ku. Kalimat itu dia sampaikan ke wicak. Besoknya, dia sampaikan kabar gembira pada ku. Pasangan ini sepakat untuk punya 1 orang anak. Cukup 1. Hahah. Aku rasa pemerintah tidak perlu repot2 gembar/o tentang program KB kalau semua warga Indonesia berfikiran seperti mereka. Kesimpulannya, gertakan ku berhasil. Lebih parahnya lagi, akhirnya ria masuk kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD dimana dia harus mampu menghadapi banyak sekali anak2. :p
Dulu, aku lupa karna masalah apa, ria cerita.. kalau sampai mereka putus, ria bakal datengin wicak ke sekolahnya dan nangis2 di depan smarihasta Malang. Beberapa hal yang dipikirkan ria tentang kehidupan kadang ga bisa masuk di akal ku. Tapi aku terima dia sebagai sahabat yang sangat baik. Aku yakin, sangat yakin, ria begitu sayang dengan orang2 di sekitarnya yang juga sayang dia.
Hubungan mereka sampai 7 tahun ini benar-benar tanpa kata putus. Mungkin gertakan ria pada wicak memang ampuh. Hahah. Yang pasti, hari ini wicak sudah dalam status panggilan interview sebuah kantor di Sidoarjo. Dia sudah tdk lagi sekolah sehingga sebenernya gertakan Ria sdh kadaluarsa. Aku rasa ria harus buat gertakan teranyar lagi. Anyway, tanpa gertakan, Wicak menolak kerja di Sidoarjo dengan alasan ga mau ninggalin ria dan pengen liat dia di wisudah dulu.
Wicak sekarang sudah ga culun, tampilannya kurang lebih seperti afgan. Semua itu berkat ria. Walau udah ga culun lagi, aku ga pernah denger prestasi akademiknya menurun. Wicak memang lahir sebagai anak pintar. Dan ria beruntung karena wicak mampu menjadi dayung bagi sampan. Ria lemah dalam beberapa hal dan wicak mampu menutupi semua itu. Mereka serasi.
Ria adalah tipical orang yang gampang khawatir. Masalah kecil berasa besar. Kalo udah kebingungan, diakhiri dengan nangis dengan tetep masih kebingungan. Dia lucu. Polos walau superior hahah.
Kemarin, Ria cerita kalo hubungan mereka sudah mulai makin serius. Wicak setiap hari dateng ke rumah ria. Mereka sdh mulai survey salon dan liat-liat undangan. Sebentar lagi calon nyonya wicak akan segera di wisudah sebagai mahasiswi dan sebagai gadis lajang. Sweet bukan jika hubungan ini berawal dari pesan singkat dan berakhir di kabar bahagia.
Pagi ini aku bangun dan mendapat pesan singkat yang just sent to me dari umar. Wicak, pacar ria itu, meninggal dunia.. Senin sore (31/1/14), namanya sudah ditambahi imbuhan Alm. Tubuhku terguncang hebat. Aku gemetar. 1 di kepala ku, Ria.
Lupakah wicak dengan perempuan yang sekarang sedang menangisinya lalu pingsan dan menangis lagi itu? Lupakah dia hingga pergi meninggalkan 7th mereka? Lupakah dia dengan semua ini? Maka lupakan lah. Jiwa mu akan tenang di sisi-Nya kawan. Lupakanlah semua tentang dunia mu, dunialah yang akan mengingat mu.
Banyak kepala yang akan bersujud menyembah Allah. Lalu berdoa untuk mu. Insyaallah. Biarlah Ria sekarang menjadi urusan ku. Aku coba tenangkan diri ku sndiri.
Pertama kali aku telfon lisya, tidak ada jawaban. Aku telfon umar, dia cerita sedikit. Dan aku hanya berusaha menghindari jempol ku memencet nama Ria. Aku tidak mau dengar suaranya. Aku sudah tau. Tanpa harus ada yang beritahu. Aku kenal Ria.
Tapi aku ga kuat! Aku telfon dia. Risa, adiknya yang angkat. Cuma 1 pesan yang dia sampaikan, Ria masih pingsan. Aku juga hanya menyampaikan 1 kabar, aku akan datang.
Detik berjalan, menit berlalu. Bunyi pesan di hape ku dari Ria. Masih adiknya yang tulis, "mbak tolong telf mbak ria yah". Telfon ria berdering saat itu juga. Aku diam, dia menangis. Aku dengar, hanya mendengar.
Hati kami tertaut. Aku menangis. Aku merasa. Ria ditinggal wicak untuk selamanya. Tidak ada gertakan yang ampuh untuk tdk ditinggalkan sebenarnya.
Ini yang Ria bilang ke aku:
"Nad.. sono nad.. sono.. umur e mek sak mene nad. Aku di tinggal nad. Ya Allah. Keinginan e sik akeh, arek e sik pengen wisudah nad. Sik pengen ngeliat aku wisudah. Arek e sik umur sak mene. Pengen e sik wakeh nad. Ojok nyia2no ridho nad, bersyukur o sik onok ridho nad, eman2en. Ya Allah.. aku keakean nyia2no sono nad. Aku emoh liat jalan, kabeh sak malang wes tak lewati bareng sono nad. Aku mesti ketok2en. Aku emmoh wisudah. Aku emmoh nad. Opo o gak aku ae sing mati. Opo o kok ga jatoh wong loro ae nang dalan cekne mati bareng nad. Opo o nad ??? Wes ga onok keluarga, gak onok wesan naaad. Sono loh sehat nad, tapi arek e di kafani. Sono lemu nad, lemu tapi arek e di kubur naaad. Aku kemaren nang omah e mayit e tak ambungi anyep naaaddd. ... ... ..." (ria pingsan)..
Aku sempat nasehati ria. Dari nada bicara rendah, sedang hingga tinggi. Sampai sekarang, aku ga lagi berani hubungi ria. Aku cuma mau peluk dia. Biar dia pingsan di pundak ku. Aku siap tahan beratnya, karna hanya itu yang aku mampu. Aku ga mampu menggantikannya untuk merasakan beban ini.
Ria bukan satu-satu nya yang ditinggal orang yang sangat dikasihi. Banyak org lain di luar sana yang juga mengalami hal yang sama. Tapi apapun itu, ditinggal tidak pernah mudah. Walau bgtu, ini takdir Ilahi yang harus diterima. Ini yang terbaik. Wicak bahagia. Dan ria akan bahagia. Insyaallah.
Al-fatihah.
Comments
Post a Comment